MEET MY BOOK!

Sebelum membahas isi dari bukuku, perlu kawan-kawan tahu kalau aku menulis postingan ini dalam situasi hidup-mati-nya mahasiswa Psikologi. Saat ini, di pertengahan bulan Maret yang panas, aku disudutkan oleh belasan tugas kejiwaan yang menuntut untuk diperhatikan. Sekarang saja, aku harus melempar buku kuliah dan menyingkirkan pikiran-pikiran rancu soal tugas dan berusaha mengumpulkan segenap niat untuk membuka blog ini, dan menulis ini.

Jadi maaf, yang tadi itu cuma curcol, penting bagiku untuk mentransmisikan kegelisahanku demi kesehatan mentalku. Dan untuk kalian, mudah-mudahan kalian tidak terkena radiasi dari transmisiku dan ikut-ikutan gelisah.

Aku melantur lagi, ya? Forget it and keep moving!

Berbulan-bulan yang lalu, mungkin tepatnya pada tanggal 28 November 2016, aku mendapat kabar dari penerbit FantasTeen--salah satu lini dari penerbit Mizan bahwa, novelku berhasil terbit. Aku senang? Pastinya. Sudah bertahun-tahun aku menantikan salah satu karyaku terbit dalam bentuk buku yang dijilid, layout rapi, dan mendapatkan nomor ISBN. Aku telah merasakan berbagai penolakan naskah sana-sini, baik itu dari penerbit besar seperti Gramedia ataupun penerbit-penerbit mayor lain seperti Mizan, Diva Press, Plotpoint, Bentang Pustaka, dan banyak lagi. Aku memulai karir menulis ini sejak kelas 6 SD, dan sejak itulah aku mulai merasakan asam-garam pedihnya dunia kepenulisan. Dari masa itu aku terus-menerus berimprovisasi, berusaha mencari-cari kesalahan yang selama ini kubuat dalam tulisanku, kemudian memperbaikinya dengan harapan bisa sesuai dengan standar yang diinginkan penerbit. Aku menangis untuk naskah pertamaku yang ditolak, dan aku pun menangis pada naskah terakhirku yang diterima.

Intinya, jika salah satu tahap menjadi penulis adalah berevolusi, maka aku pun berevolusi.

Lanjut....
Jangan berpikir bahwa setelah bukuku diterbitkan, aku bisa duduk santai dan leyeh-leyeh menunggu royaliti hasil penjualan. Perjuangan seorang penulis tidak berakhir sesimpel itu. Bagian selanjutnya yang menghantamku dengan telak adalah promosi, upaya agar bukuku bisa dikenal dan dibaca oleh banyak orang. Aku menemui hal itu tidak mudah dilakukan karena, selain lingkaran pertemananku yang tidak luas-luas amat, aku juga tidak persuasif dalam mempromosikan sesuatu, meskipun itu karyaku sendiri.

Maka berakhirlah aku dalam jurang kegelisahan, sekali lagi.

Bagaimana jika tidak banyak yang membaca karyaku? Bagaimana jika remaja di luar sana tidak mengenal siapa itu Rim Razya? Bagaimana jika novelku, yang baru kali ini terbit secara resmi, terkubur dan tenggelam oleh buku-buku yang lebih menarik dalam hitungan dekat? Menghilang begitu saja? Bagaimana jika perjuanganku menerbitkan buku selama ini menjadi sia-sia?

Untuk penulis, aku yakin hal-hal seperti itulah yang memenuhi otak kami di awal-awal penerbitan.

Maka, berlalulah waktu. Aku sudah mengerahkan upaya promosi yang kubisa. Baik yang kupelajari dari penulis-penulis lain yang telah lebih dulu menerbitkan karyanya, maupun dengan cara yang kukarang-karang sendiri. Aku hanya bisa menyerahkan hasilnya pada Allah, dan menangis dalam pelukan orang-orang terdekatku ketika aku belum meraihnya. Beruntung, aku juga punya segelintir teman yang tidak henti-hentinya mendorongku untuk pantang menyerah, teman-teman yang dengan cara mereka sendiri mau membaca dan mempromosikan bukuku kepada teman-teman mereka. 

Kini, novelku sudah terjual kurang lebih 150 eksemplar dalam jangka waktu 3 bulan sejak terbit. Memang belum terhitung banyak, tapi itu tetap membuatku kaget. Setelah berminggu-minggu tanpa mendapat satu pun komentar dari pembaca, lagi-lagi aku merasa gagal. Syukurnya, hal itu tidak bertahan lama. Perlahan-lahan, mulai banyak yang memberikan tanggapan mereka terhadap cerita yang kutulis. Alhamdulillah, banyak respon positif dari para pembaca. Mataku selalu berbinar-binar senang ketika para pembaca menyapaku dan bercerita tentang adegan-adegan dari novelku yang berkesan bagi mereka. Bagaimana suatu adegan tertentu dalam kisah yang kutulis membuat mereka kaget, marah, mendendam, dan sedih di saat yang bersamaan.

Tentunya, kritikan dari pembaca juga ada. Aku sangat menerima itu dan menganggapnya sebagai anak tangga baru untuk improvisasiku selanjutnya. Aku ingin mendengar semua yang dipikirkan oleh pembacaku, bahwa hal itu berharga bagiku. Jadi, jika ada di antara kawan-kawan sekalian yang adalah pembaca novelku selanjutnya, jangan sungkan-sungkan untuk langsung berkomentar dan menghubungiku.

Baiklah, itu tadi kisah singkat mengenai duka-lara pasca penerbitan. Baru-baru ini, aku datang ke acara bedah buku Tere Liye. Disana, salah satu temanku yang uhuk! kelewat nekat uhuk! memberikan novelku ini kepada beliau untuk dibaca. Dari kejadian itu, separuh nyawaku nyaris menghilang. Dan dalam dua jam yang menyiksa, aku berubah menjadi mayat katatonik saking spechless-nya.  

Maaf, barusan hanya intermezzo. Sekarang, let's meet my book!


Judul: FantasTeen Upsider Downster
Genre: Distopia, Thriller
Jumlah Halaman: 180 halaman
Penulis: Rim Razya
Penerbit: DAR! Mizan
Terbit: November 2016
ISBN: 978-602-420-294-1
Sinopsis:

Tahun lalu, planet bumi diserang badai matahari. Badai matahari memporakporandakan umat manusia. Menjadikan mereka saling membunuh untuk berebut makanan. Uang dan kemewahan menjadi sesuatu yang tidak berharga.

Di antara manusia-manusia yang tersisa, terdapat para Manusia Kebal yang berkelana untuk bertahan hidup. Selama setahun penuh mereka berlari, merampok, mencari makan, hingga membangun kelompok-kelompok pertahanan diri. Dunia hanya dipenuhi debu dan sengatan matahari. Tidak ada lagi alasan untuk tersenyum.
Hingga suatu malam, seorang gadis cantik dengan pakaian bersih seperti malaikat turun dari langit. Dia mengaku datang dari negeri di mana pohon-pohon berbatang tebal tumbuh hingga menembus awan. Gadis tersebut datang membawa burger paling enak dan mewah. Tidak mungkin ada yang seperti itu. Tidak mungkin ada kemewahan, baju bersih, dan kota di atas awan. Hingga akhirnya, Rarang, salah satu Manusia Kebal, membuktikannya sendiri mengunjungi kota tersebut.

Rarang mulai paham perbedaan surga dengan bumi yang dipijaknya.


Sudah kubilang di postinganku sebelumnya kalau aku suka mengarang-ngarang kiamat versi-ku sendiri, kan? Maka, itulah dia, buah dari perenungan dan pemikiran yang diramu selama berbulan-bulan, kini telah menjelma menjadi buku yang dijilid dan dapat dijumpai di toko-toko buku di kotamu. Pastikan untuk membeli dan membacanya, ya!

Komentar

Postingan Populer