I Don't Know, I Just Write!

Well, kalau jadi kau, aku bakal langsung minggat dari sini. Serius!

Dalam beberapa pekan ini, aku dapat dikatakan telah menjelma menjadi monster limbah pembuangan. Karena selain fakta bahwa aku adalah gadis yang malas mandi dan kebetulan kemarin aku tidak mandi seharian penuh, aku juga terombang-ambing dalam pelimbahan emosiku sendiri. Mengapa aku dengan bangganya menyebut diriku sendiri monster limbah? Nah, itu namanya metafora dan sedikit hiperbolis, kawanku.

Lihat? Sampai sini saja aku sudah membuktikan kalau postinganku kali ini tidak berbobot sama sekali. Jadi, apa yang kau tunggu? 

Masih terus membaca, eh? Terserah deh.

Jadi, begini...



Sesuatu tengah mengikutiku. 

Tidak, maaf jika ini terdengar klise, tapi ini tidak seremeh yang kau bayangkan. Dalam kehidupanku, aku berbahagia dengan hanya menjadi diriku sendiri, dan disisi lain, aku berbahagia dengan menggunakan topengku. Singkatnya, menjadi orang yang sama sekali berbeda.

Mungkin aku melebihkan beberapa hal, namun di mata orang lain, diriku yang itu, yang menjalani hidupnya sebagai seorang gadis kutu buku yang takkan pernah kau jumpai kecuali kau benar-benar mencari di sudut ruangan, adalah orang normal yang akan berbicara jika kau ajak bicara. Namun disini, kali ini, Rim Razya adalah pribadi yang lain. Rim Razya takkan peduli pada sisi terang dan gelap orang lain, diriku yang ini takkan senang dengan gangguan seperti itu. Aku lebih suka berada di wilayah abu-abu, menjaga agar kedua tanganku tetap bersih dari konflik dua kubu tersebut.

Sesuatu memang mengikutiku. Karena aku memaksa untuk lepas dari segala tetek bengek terang-gelap, sesuatu dari dunia abu-abu justru menguntitku. Apa aku merasa terganggu? Risih? Err..yah, tidak juga. Malahan, secara diam-diam, aku berharap dapat terus tenggelam dalam zona abu-abu ini demi terus berinteraksi secara diam-diam dengan sesuatu di dalamnya.

Hantu? Roh? Zombie? Tidak. Sesuatu yang berada dalam zona abu-abu tidak seabsolut itu, wujudnya lebih menyerupai manifestasi kasar dari imajinasi liarku. Perwujudan dari benang-benang ruwet yang berusaha kuurai demi menemukan tujuan hidupku. Bertahun-tahun lalu, aku telah terlelap begitu dalam di zona abu-abu, melepaskan ikatan dengan seluruh kerabat dan teman-temanku. Menolak bangun, hingga monster sebenarnya mewujud dan menyelimutiku.

Terkadang, dalam situasi-situasi yang senyap, sesuatu itu datang. Mengintip dari balik pintu kamarku, terkadang bergantungan di tali-tali jemuran, bahkan bersembunyi di balik bahuku. Kehadirannya menyenangkan, nyaris memabukkan malahan. Seiring aku larut, semakin aku melupakan wujud sejatiku. Sesuatu itu menemukanku, lalu menarikku agar berpaling dari realita. Mengobarkan kebencian-kebencian terdalamku, meniupi dendamku, dan menghacurkan harapan-harapanku. Lantas, kau pasti bertanya, mengapa aku bahagia berjumpa dengan sesuatu itu? Meski aku sadar pada akhirnya dia akan menghancurkanku selamanya? Nah, perlu kau tahu, inilah fitrah sejati manusia. Atau, jika kau tidak merasa dirimu seperti itu, maka inilah fitrahku

Sejatinya, aku hanya berharap agar diriku memiliki teman. Hanya itu. Namun, hasrat terdalam, kehendak dari jiwaku yang terdalam, menginginkan lebih. Tidak cukup dengan teman-teman yang memiliki denyut nadi yang bisa bernapas dan hidup, aku menuntut untuk memiliki teman yang seringan angin dan seabstrak pemikiranku. Teman yang takkan menyakitiku bagaimanapun caranya, serta teman yang mengabulkan hasrat-hasrat terkelamku, apapun konsekuensinya.

Aku tidak punya teman imajinasi, jika kau menganggapnya demikian. Aku hanya aku, normal dan waras. Aku hanya menolak gejolak realita dan bergabung dalam pemikiranku, itu saja. Aku bukan filosof, aku muak dengan mereka. Aku bukan penyair, karena aku tidak selalu menghayati syair. Aku hanya aku, gadis delapan belas tahun yang berkawan dengan diriku sendiri.

Mungkin itulah mengapa aku lebih senang berdiam diri di kamar daripada menjejak keluar bersama yang lainnya. Karena dunia abu-abu telah menjadi inang bagiku. Karena disanalah aku dapat menemukan hakikatku. Psikolog-ku berkata aku baik-baik saja, "You just can't deal with stress," katanya. Lalu apa? Aku gila? Padahal nyata-nyatanya sudut mataku selalu menangkap gerakan-gerakan dari sesuatu itu, menyadari kehadirannya.

Tidak, kau tidak perlu takut. Aku tidak gila, aku juga tidak sedang stress. Aku hanya bahagia, namun dengan cara yang tidak dimengerti orang lain. I'm built my own world, kerajaan yang kuperintah sendiri, dunia yang menjadi tempat pelarianku, dunia dimana aku memproduksi topeng-topengku. Tempat dimana sesuatu itu datang dan mengikutiku. Satu-satunya tempat dimana aku dapat menjadi diriku yang sejati.

Ah, ya, kini dia sedang mengawasiku.
Sampai jumpa lagi kalau begitu...

Komentar

Postingan Populer